19 02 2013 itulah tanggal kami pergi ke pulau
terkecil di kab bengkayang, pulau ini sering di sebut pulau randayan.
Kecantikan terumbu karangnya sunggu memukau mata kami yang baru pertama kali
mengunjungi pulau itu. Dengan jarak 15-50 meter dari bibir pantai pulau
randayan ini kita bisa melihat terumbu karang. namun bila anda belum bisa
berenang sangat disarankan untuk menggunkan lap jaket karena di pulau kecil ini
memiliki arus air launya yang lumyan kuat hingga bisa membuat kita terbawa jahu
dari pulau tersebut dan mungkin bisa membuat hal-hal yang tidak di inginkan
terjadi.
Bila anda ingin
kepulau randayan maka anda harus menyeberangi
lautan sekitar 1- 2 jam di atas kapal. Untuk menyeberangnya kita harus
ke dermaga teluksuak di desa karimunting dan jarak dari desa karimunting ke
kota pontianak sekitar 2-3 jam menggunakan motor. Buat yang menggunkan motor
jangan berkahawatir karena di tempat penyeberangan teluk suak ini di persiapakan
penitipan buat teman-teman yang ingin ke pulau lemukutan, pulau kabung, pulau
randayan, pulau petabesar dan kecil. Cukup dengar Rp 5.000 permotornya, Motor kita di simpat di tempat yang benar-benar
aman. Untuk penyeberangan kita ke pulau randayan ini cukup dengan Rp 25.000 dan
untuk masuk ke pulau ini di kenakan biaya Rp 15.000 perorangnya.
Dengan biaya yang
cukup terjangkau untuk ke pulau ini membuat banyak orang ingin berbondong ke
pulau ini, termasuk saya dan teman-teman saya yaitu yoga, eno, een, wahyu, ana,
ani, siti, dita, dan ica. Kami tidak menyianyiakan kesempatan untuk
berphoto-photo karena menurut kami ini bukti kalau kami sudah pernah ke pulau
randayan, apa lagi ketika kami mata hari ini beranjak trun dengan warna-warna
yang alami ini membuat kami berebut ingin photo duluan karena tidak ada yang
ingin ke tinggalan momen yang kami anggap sangat berharga ini.
Malam menjelang kami
kedatangan tamu, penduduk yang sudah lama tinggal di pulau randayan ini mungkin
kita bisa sebut beliau penduduk asli pulau randayan. Banyak cerita yang kami
dengar tentang pulau dan tentang hal-hal goip yang di ceritakan dan itu sudah
pasti membuat kami terkesan serta merasa takut. saya tidak tahu apakah itu
benar atau tidak, mungkin lebih baiknya menjadi pendengar yang baik. Setelah
bapak itu pulang kami melajutkan rencara yang telah di rencanakan sebelumnya di
pontianak yaitu membakar jagung. Itu membuat suasana camping kami lebih berasa
kalau saat ini berada di alam terbuka. Satu hal yang pembaca harus tahu bawah
kami tidak menginap di perhotelan atau vila yang telah siap di sewakan di pulau
ini tapi kami mendirikan tenda yang di antara gubung tua dan pastinya membuat
kami lebih irit dari biaya sewa hotel serta sensasi kampingn yang lebih terasa.
Setelah selesai
membakar jagung yang telah di persiapkan dari awal mata kami pun mulai ingin
memanjakan dengan berisrahat tidur untuk bangun pagi pada esok harinya karena
pada saat di atas kapal nahkodanya bilang bawah ia akan menjeput kami pada pagi
hari. Pada saat pagi harinya kapal yang telah di janjikan untuk menjemput kami
telah datang dalam perjalan pulang, tetapi kami tetap menyempatkan diri untuk
berphoto di restoran pulau ini. Setelah di atas kapal kami tetap berphoto
dengan latar belankang pulau randayan sampai batrai habis barulah kami berhenti
berphoto-photo. Sesaat perjalan pulang kami melihat pulau-pulau yang masih
alami dan lebih besar dari pulau yang kami kunjungi ini dan kami juga berjanji
untuk mengunjungi pulau lemukutan pada liburan semester 4.





